Category Archives: Restorasi Gambut

Restorasi Gambut

Degradasi gambut tidak bisa dibiarkan, karena pembiaran kerusakan gambut niscaya sama dengan menabung risiko menuai bencana di masa-masa yang akan datang. Pengalaman menderita selama 18 tahun sebagai akibat dilanda kabut-asap yang sangat menyesakkan di Riau sudah cukup membuktikan bahwa apabila degradasi gambut tidak dihentikan, maka potensi bencana semacam ini akan berkepanjangan. Hal yang sama juga dirasakan di Jambi dan Sumatera Selatan, serta sebagian Kalimantan dan Papua.

Atas dasar itulah, pemerintah membentuk Badan Restorasi Gambut (BRG) yang diberi amanah untuk menjadi koordinator, penggalang dan pemandu upaya restorasi gambut yang ada di berbagai penjuru tanah air, khususnya di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua. Pembentukan badan yang diresmikan pada tahun 2016 ini dengan demikian membuktikan tekad pemerintah untuk tidak menganggap remeh degradasi gambut.

Restorasi gambut merupakan berbagai bentuk upaya yang memiliki tujuan utama: (i) menghentikan proses degradasi gambut lebih lanjut; (b) memperbaiki kondisi gambut yang mengalami degradasi; dan (3) memperbaiki kehidupan masyarakat yang memiliki ketergantungan pada lahan gambut maupun sumberdaya lain yang berkaitan dengannya. BRG merumuskan tiga strategi restorasi gambut yang disebut 3R, yaitu R1 yang merupakan singkatan dari “Rewetting” atau pembahasan kembali, R2 yang berarti “revegetation” atau penggantian vegetasi penutup gambut yang hilang, dan R3 yang bermakna “revitalization of livelihoods” atau pemberdayaan kembali berbagi bentuk penghidupan yang bersumber pada lahan atau ekosistem gambut.

BRG telah mencanangkan target restorasi seluas 2,4 juta hektar yang terbagi-bagi di tiga pulau, yaitu Sumatera, kalimantan dan Papua. Dengan target yang cukup gigantis ini, badan ini bekerja-keras untuk menggalang kerjasama dengan banyak kalangan, baik di dalam negeri maupun luar negeri, termasuk dengan berbagai lembaga penelitian dan universitas. Semua ini bertujuan untuk menghimpun bantuan finansial maupun teknis dari para mitranya agar dengan demikian proses restorasi gambut dapat digesakan (am/psb/2018).

“Rewetting” atau Pembasahan Kembali

Masalah utama yag ditimbulkan oleh pembuangan air gambut, apalagi disertai dengan penghilangan tutupan vegetasi hutan yang berupa pepohonan rapat, menyebabkan gambut kehilangan air dari dua arah. Ke arah samping air mengalir kedalam kanal-kanal atau parit-parit, ke atas air menguap. Akibatnya, gambut secara cepat maupun lambat akan berangsur mengering. Pada titik tertentu, pengeringan ini membuat sifat khas gambut berubah, yaitu yang biasanya suka menyerap dan menyimpan air (“hidrofilik”) menjadi tidak lagi menyerap air (“hidrofobik”). Biasanya, lapisan gambut di permukaan yang sering terkena sinar matahari secara langsung akan mengalami perubahan ini.

Rewetting” atau pembasahan kembali merupakan sebuah strategi untuk mencegah agar titik tersebut tidak tercapai. Sifat gambut yang “hidrofilik” harus tetap dipertahankan dengan cara memperpanjang penahanan air dalam gambut dan mengurangi laju pembuangannya melalaui kanal-kanal. Hal ini secara sederhana dapat dilakukan dengan menyekat atau menabat kanal. Tetapi, hasil penelitian PSB membuktikan kalau kanal tidak bisa sembarang disekat, karena banyak faktor yang harus diperhitungkan. Salah satunya adalah disain sekat kanalnya.

Dr. Sigit Sutikno bersama timnya sejak tahun 2016 lalu meneliti secara intensif disain sekat kanal yang paling sesuai untuk diterapkan dimana-mana, yaitu yang memenuhi prinsip ini: efektif (fungsional), murah, mudah dibuat, tahan lama. Salah satu persoalan yang dihadapi oleh pak Sigit adalah terbatasnya ketersediaan bahan konstruksi sekat yang berupa kayu. (am/psb/2018)

Degradasi Lahan Gambut

Degradasi lahan gambut merupakan proses rusaknya lahan gambut. Pemicu utama kerusakan lahan gambut di Provinsi Riau, sebagaimana halnya yang juga banyak terjadi di provinsi-provinsi lain di Indonesia, adalah deforestasi, drainasi dan kebakaran.

Deforestasi adalah proses berkurangnya tutupan vegetasi alami lahan gambut, yaitu hutan rawa gambut. Deforestasi biasanya diawali dengan destruksi hutan atau perusakan hutan sebagai akibat eksploitasi yang tidak terkendali. Penebangan pohon yang bertujuan untuk mengambil kayu-kayu dari hutan rawa gambut sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu, sehingga biasanya menimbulkan kerusakan yang sangat parah. Rusaknya hutan membuat pemerintah di masa lalu menganggap hutan tidak lagi sebagai aset yang produktif dari sudut pandang ekonomi, sehingga melepas banyak kawasan hutan yang semula berstatus sebagai hutan produksi menjadi hutan konversi. Tetapi dalam kenyataannya, konversi hutan terjadi juga secara spontan dan melibatkan banyak masyarakat dari berbagai kalangan.

Agar lahan hutan rawa gambut bisa dialihgunakan menjadi hutan tanaman industri (HTI), perkebunan atau kebun-kebun sawit, karakteristik rawanya harus dihilangkan. Hal ini dilakukan dengan cara drainasi, yaitu membuang airnya sehingga ketinggian permukaannya menyusut. Pada saat ini banyak dijumpai penyusutan ini bahkan bisa mencapai hingga lebih dari 200 cm.

Akibat pembuangan air tersebut sangat mudah diduga, yaitu pengeringan gambut. Pada tingkat tertentu, gambut dapat mengering hingga tak bisa balik lagi ke kondisinya semula. Sebelum mengalami perubahan ini, gambut bersifat seperti “spons” yang bisa menyerap dan menyimpan air. Ketika sudah mengering tak balik, gambut tidak lagi bisa menyerap apalagi menyimpan air, bahkan bercampur airpun tidak. Pada taraf ini, gambut berubah menjadi apa yang disebut “pasir semu,” yaitu berupa butiran atau serpihan-serpihan kecil yang mudah terbakar atau terhanyutkan air.

Kerusakan lahan gambut yang berkaitan dengan deforestasi, drainasi dan kebakaran sudah berlangsung setidaknya sejak 20 tahun lalu di sempadan Sungai Rawa, meskipun demikian, yang terjadi dalam dasawarsa terakhir ini (2008-2018) menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Salah satu akibatnya yang paling mengkhawatirkan adalah menjadi sangat rentan kebakarannya kawasan ini. Hal ini dibuktikan oleh banyaknya kasus kebakaran yang terjadai selama kurun waktu ini (am/psb/2018).