Degradasi Lahan Gambut

Degradasi lahan gambut merupakan proses rusaknya lahan gambut. Pemicu utama kerusakan lahan gambut di Provinsi Riau, sebagaimana halnya yang juga banyak terjadi di provinsi-provinsi lain di Indonesia, adalah deforestasi, drainasi dan kebakaran.

Deforestasi adalah proses berkurangnya tutupan vegetasi alami lahan gambut, yaitu hutan rawa gambut. Deforestasi biasanya diawali dengan destruksi hutan atau perusakan hutan sebagai akibat eksploitasi yang tidak terkendali. Penebangan pohon yang bertujuan untuk mengambil kayu-kayu dari hutan rawa gambut sudah berlangsung sejak puluhan tahun yang lalu, sehingga biasanya menimbulkan kerusakan yang sangat parah. Rusaknya hutan membuat pemerintah di masa lalu menganggap hutan tidak lagi sebagai aset yang produktif dari sudut pandang ekonomi, sehingga melepas banyak kawasan hutan yang semula berstatus sebagai hutan produksi menjadi hutan konversi. Tetapi dalam kenyataannya, konversi hutan terjadi juga secara spontan dan melibatkan banyak masyarakat dari berbagai kalangan.

Agar lahan hutan rawa gambut bisa dialihgunakan menjadi hutan tanaman industri (HTI), perkebunan atau kebun-kebun sawit, karakteristik rawanya harus dihilangkan. Hal ini dilakukan dengan cara drainasi, yaitu membuang airnya sehingga ketinggian permukaannya menyusut. Pada saat ini banyak dijumpai penyusutan ini bahkan bisa mencapai hingga lebih dari 200 cm.

Akibat pembuangan air tersebut sangat mudah diduga, yaitu pengeringan gambut. Pada tingkat tertentu, gambut dapat mengering hingga tak bisa balik lagi ke kondisinya semula. Sebelum mengalami perubahan ini, gambut bersifat seperti “spons” yang bisa menyerap dan menyimpan air. Ketika sudah mengering tak balik, gambut tidak lagi bisa menyerap apalagi menyimpan air, bahkan bercampur airpun tidak. Pada taraf ini, gambut berubah menjadi apa yang disebut “pasir semu,” yaitu berupa butiran atau serpihan-serpihan kecil yang mudah terbakar atau terhanyutkan air.

Kerusakan lahan gambut yang berkaitan dengan deforestasi, drainasi dan kebakaran sudah berlangsung setidaknya sejak 20 tahun lalu di sempadan Sungai Rawa, meskipun demikian, yang terjadi dalam dasawarsa terakhir ini (2008-2018) menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan yang sangat signifikan. Salah satu akibatnya yang paling mengkhawatirkan adalah menjadi sangat rentan kebakarannya kawasan ini. Hal ini dibuktikan oleh banyaknya kasus kebakaran yang terjadai selama kurun waktu ini (am/psb/2018).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s